Terdapat banyak model
PTK yang dapat kita gunakan. Hal
ini dimaksudkan agar wawasan kita lebih luas dan agar desain
yang dikembangkan akan lebih jelas dan terarah. Dalam bab ini
akan ditampilkan beberapa PTK sebagai bahan visualisasi langkah-langkah yang
dilakukan dalam prosedur penelitian.
Pada prinsipnya PTK atau CAR (Classroom Action Research)
dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan
yang terdapat di dalam kelas. Sebagai salah satu penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang terdapat di dalam kelas,
menyebabkan terdapatnya beberapa model
atau desain yang dapat diterapkan.
Desain tersebut kita bahas berikut ini.
A.
Model
Kurt Lewin
Model Kurt Lewin
merupakan model pertama dalam PTK yang diperkenalkan pada tahun 1946, dan
merupakan acuan pokok atau dasar dati
berbagai model PTK yang lain. Konsep
pokok penelitian tindakan Model Kurt
Lewin terdiri dari empat komponen, yaitu
a) perencanaan (planning), b)
tindakan (acting), c) pengamatan (observing),
dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar.6.1. Siklus PTK menurut Kurt Lewin
B.
Model
Kemmis dan Mc Taggart
Model Kemmis & Mc Taggart merupakan
pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang
diutarakan di atas. Hanya saja komponen
acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan sebagai satu
kesatuan.
Model Kemmis dan Mc Taggart pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan, tindakan,
pengamatan, dan refleksi yang
keempatnya merupakan satu siklus.
Model Kemmis dan
Mc Taggart dapat digambarkan sebagai berikut :


Gambar 6.2. PTK Model Kemmis & Mc Taggart
C.
Model
John Elliot
Model John Elliott juga
dikembangkan berdasarkan model Kurt Lewin, tetapi nempak lebih detail dan rinci. Pada model John Elliot
dalam satu tindakan (acting) terdiri dari beberapa step atau langkah tindakan,
yaitu langkah tindakan 1, langkah
tindakan 2 dan langkah tindakan 3 . Adanya langkah-langkah untuk setiap tindakan ini dengan dasar pemikiran bahwa di dalam mata pelajaran terdiri dari
beberapa pokok bahasan, dan setiap pokok bahasan terdiri dari beberapa materi yang tidak dapat
diselesaikan dalam satu kali tindakan.
D.
Model
Hopkins
Berpijak pada desain-desain
model PTK para ahli pendahulunya, selanjutnya Hopkins (1993 : 191)
menyusun desain tersendiri, yaitu sebagai berikut :
![]() |
| Add caption |
Gambar.6.4.
Siklus PTK menurut Hopkins
E.
Model
Gabungan Sanford dan Kemmis
Model ini dikembangkan oleh Direktorat Ketenagaan Ditjen Dikti Depdiknas. Sehingga diperoleh batasan
peenelitian tindakan adalah sebagai sebuah proses
investigasi terkendali yang siklis dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk
melakukan perbaikan terhadap
sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi.
Siklus tersebut
menunjukkan adanya aktivitas dalam PTK
yang diawali dengan perencanaan tindakan
(planning), penerapan tindakan (action), mengobservasi dan
mengevaluasi proses dan hasil
tindakan (observation and evaluation), melakukan refleksi (reflection),
dan seterusnya sampai tercapai kualitas
pembelajaran yang diinginkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar