Minggu, 19 Maret 2017

Mengenal Profesi Guru


        MENGENAL PROFESI GURU
Guru merupakan komunikator yang menyampaikan pesan kepada peserta didiknya (komunikan). Bagaimana caranya guru  agar pesan yang ia sampaikan dapat diterima dengan baik dan menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didiknya, sehingga  memperoleh hasil belajar, baik dari Ranah afektif (sikap), Kognitif (pengetahuan ) atau pun psikomotorik         (keterampilan).
            Permasalahan belajar yang sering dialami di dalam kelas biasanya: tidak bisa konsentrasi, tidak dapat memahami, mudah lupa apa yang sudah diingat, dan otak merasa “penuh”/ “jenuh”.
            Kegiatan yang melibatkan otak kiri dan kanan sekaligus pasti menyenangkan, misalnya membaca komik, menonton film kartun, atau main games. Mengapa ?. Bagaimana dengan kegiatan belajar ?.Sesuatu yang bersifat monoton dan terpola akan menyebabkan Kejenuhan  Otak. Itulah yang ada pada format materi pelajaran anak sehari-hari. Belajar akan menyenangkan kalau kita  melibatkan kedua belah otak kita, yaitu otak  kiri dan otak kanan. Sedangkan Guru yang baik adalah guru yang dapat  menyampaikan pesan kepada peserta didiknya .Lalu bagaimana dengan guru yang Profesional  ?. Mari kita kaji  tentag hakikat guru berikut
A.       Pengertian Guru
Dalam Khazanah  pemikiran Islam, istilah guru  memiliki beberapa istilah, seperti “ustadz”, “muallim”, “muaddib”, dan “murabbi”.. Istilah muallim lebih menekankan  kepada guru sebagai pengajar dan penyampai pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science); istilah muaddib lebih menekankan guru sebagai  Pembina moralitas dan akhlak peserta didik dengan keteladanan; sedangkan istilah murabbi lebih menekankan pengembangan dan  pemeliharaan  baik aspek jasmaniah  maupun ruhaniah. Sedangkan istilah  umum yang dipakai dan mamiliki  cakupan makna yang luas dan netral adalah ustad yang dalam bahasa Indonesia dikenal diterjemahkan sebagai “guru”.
Menurut Marno (2014), guru sering dikaitkan dengan istilah bangsa  sehingga menjadi guru bangsa. Istilah guru muncul  ketika sebuah bangsa mengalami kegoncangan  struktural dan kultural  sehingga hamper-hampir terjerumus dalam kehancuran. Guru bangsa adalah  orang yang dengan keluasan  pengetahuan, keteguhan komitmen, kebesaran jiwa dan pengaruh, serta keteladanannya  dapat mencerahkan  bangsa dari kegelapan. Guru bangsa dapat lahir dari ulama dan agamawan, intelektual, pengusaha pejuang, birokrat, dan lain-lain.Guru mengandung nilai, kedudukan, dan peranan mulia. Karena itu , di dunia ini banyak  orang yang bekerja sebagai guru, akan tetapi  mungkin hanya sedikit orang yang bekerja sebagai guru, yaitu yang bisa digugu dan ditiru.
Guru adalah  seorang  yang  menyampaikan pesan kepada anak didiknya, dari berbagai pengetahuan dan pengalaman yang telah  didapat sehingga melekat  sebagai profesi, dengan senantiasa mengikuti kemajuan teknologi, dan terus belajar sepanjang hayat  sehingga  dapat menciptakan generasi unggulan bangsa.

B.        Kriteria Guru
Menurut Jamal (2009) guru ideal adalah, guru yang memahami benar profesinya. Profesi guru adalah  profesi  yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu memberi dengan tulus  dan tak mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridha dari  Tuhan pemilik bumi. Falsafah  hidupnya adalah tangan diatas  lebih mulia daripada tangan dibawah. Hanya memberi tak harap kembali. Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya. Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan  5 S (salam , sapa, sopan, senyum,  dan sabar) dalam kesehariannya.
Menurut Husnul  Chotimah (2008) criteria guru ideal  yang seharusnya dimiliki oleh  bangsa Indonesia di abad 21 ini, yaitu  dapat membagi waktu dengan baik, rajin membaca, banyak menulis, gemar melakukan penelitian. Keempat hal diatas diperlukan oleh seorang guru  untuk menjadi guru ideal
Dari beberapa  pengertian diatas, pengertian guru  dapat  dijelaskan sebagai berikut.
           Pertama, guru  yang komunikatif. Guru yang berperan menyampaikan pesan kepada anak didiknya sehingga dapat diingat oleh anak didiknya sepanjang masa. Agar senantiasa diingat  dalam setiap pembelajaran alangkah baiknya guru senantiasa menyediakan media yang dapat menarik minat, perhatian, dan motivasi siswa sehingga menjadi suatu pembelajaran yang bermakna.
           Kedua, guru adalah seorang sosok yang senantiasa  dengan tulus memberikan ilmunya, dalam dirinya meyakini bahwa ilmu yang bermanfaat yang diberikan kepada anak didiknya dapat menjadi bekal amalan yang takkan pernah putus. Dari keyakinan tersebut guru senantiasa mempersiapkan  segala macam perlengkapan yang diperlukan dalam setiap pembelajaran dengan tujuan anak didiknya memiliki keberhasilan  dalam belajar. Keberhasilan belajar dari berbagai Ranah, yakni ranah afektif (sikap), kognitif (ingatan), dan psikomotorik (keterampilan).
             Ketiga, guru adalah sosok yang senang akan ilmu, dia senantiasa membaca dan mengungkapkan ide kreatif lewat tulisan dan dapat dibawa serta bermanfaat bagi orang yang membacanya. Dari pemikirannya membuahkan nilai-nilai  yang bermanfaat demi kemajuan pendidikan sepanjang zaman.
            Keempat, guru adalah sosok yang kreatif dan inovatif. Guru kreatif yang senantiasa  mengevaluasi setiap pembelajaran yang telah dilakukan di kelas. Dia senantiasa mengevaluasi diri apakah siswa dapat memahami, menikmati pembelajaran yang dibawakannya, apakah dia sudah menjadi guru yang  baik. Guru kreatif dan inovatif, yaitu guru yang dapat menjadikan suatu bahan yang ada dilingkungannya menjadi benda yang bernilai untuk menyampaikan pesan kepada anak didiknya. Dia senantiasa menjadi pelopor inovatif media dari bahan yang tidak dapat digunakan  menjadi barang yang istimewa yang menjadi daya tarik, minat dan motivasi siswa dalam belajar. Sehingga  guru tersebut ditunggu dan dirindu oleh anak didiknya.

C.       Syarat Guru
Menurut Jamal (2012) syarat menjadi guru ideal  harus mempunyai landasan keagamaan yang kokoh dan disiplin, memahami visi misi  pendidikan  secara holistik dan integral, mempunyai  kemampuan intelektual  yang memadai, menguasai  teknik pembelajaran yang kreatif.
Dalam perspeksif agama,   syarat menjadi  guru ideal sebagaimana disampaikan  KH. Moh. Hasyim As’ari, ada 20 (dua puluh) macam.
Pertama, senantiasa istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT. Muraqabah  adalah melihat Allah Swt. Dengan mata hati dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian mengambil hikmah  atau jalan yang terbaik bagi dirinya  dengan merasakan adanya pemantauan Allah swt terhadap dirinya.
Kedua, senantiasa berlaku  khauf (takut kepada Allah Swt) dalam segala ucapan dan tindakan. Sebab guru adalah orang  yang dipercaya  untuk menjaga amanat, baik itu berupa ilmu, hikmah, dan perasaaan takut kepada Allah Swt. Sedangkan kebalikan dari itu adalah khianat.
Ketiga, senantiasa bersikap tenang.
Keempat,  senantiasa bersifat wara’. Wara adalah  keluar dari setiap pekara subhat dan mengoreksi diri dalam setiap keadaan.
Kelima,  selalu bersikap tawadhuk. Tawadhuk adalah  merendahkan diri dan melembutkan  diri terhadap makhluk, ataupun patuh terhadap kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah, hokum dan kebijaksanaan.
Keenam, selalu bersikap khusuk kepada Allah swt.Dalam sebuah surat yang ditulis Imam Malik kepada Harun ar-Rasyid terungkap, “Apabila engkau mengerti suatu ilmu, maka engkau akan melihat  pengaruh ilmu tersebut berwibawa, tenang, dan dermawan, karenaRasulullah bersabda, “Para ulamaadalah pewaris para nabi.”
Ketujuh, menjadikan Allah  Swt . sebagai tempat meminta pertolongan  dalam segala keadaan.
Kedelapan, tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga mencapai keuntungan duniawi , baik jabatan, harta, popularitas, atau agar lebih maju disbanding temannya yang lain.
Kesembilan, tidak diskriminatif terhadap murid.
Kesepuluh, bersikap  zuhud (menolah kesenangan ayau  kecintaan)  dalam urusan dunia sebatas apa yang ia butuhkan, yang tidak membahayakan  dirinya sendiri, keluarga, bersikap sederhana dan bersikap  qana’ah.
Kesebelas, menjauhkan diri dari tempat-tempat yang rendah dan hina menurut manusia, juga hal-hal yang dibenci oleh syariat atau adab setempat.
Kedua belas, menjauhkan diri dari tempat-tempat kotor dan maksiat walaupun jauh dari keramaian. Jangan melakukan  sesuatu yang bisa mengurangi sifat muru’ah (menjaga diri dari  perbuatan yang tidak terpuji).
Ketiga belas, selalu  menjaga syiar-syiar  Islam dan  zhahir-zhahir hukum, seperti shalat berjamaah di masjid, menyebarkan salam, amar ma’ruf nahi munkar, serta senantiasa sabar terhadap musibah yang menimpanya. Selalu berpegang pada kebenaran walaupun kepada para penguasa serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Tidak  pernah merasa gentar, ataupun terhadap cacian orang.
Keempat belas, menegakkan sunnah-sunnah dan menghapus  hal yang mengandung unsur bid’ah, menegakkan segala hal yang mengandung kemaslahatan bagi  kaum muslimin dengan jalan yang dibenarkan syariat, dengan cara yang baik dan lembut, baik menurut adat istiadat maupun watak.
Kelima belas, membiasakan diri melakukan sunnah yang bersifat syariat, baik  qauliyah atau fi’liyah, seperti  membiasakan diri membaca ayat-ayat suci Al-Qur’anbaik  di hati atau di lisan, berdoa dan berdzikir baik siang maupun malam, mendirikan shalat, puasa , berhaji apabila sudah mampu, membaca shalawat kepada Nabi Saw., mencintai, mengagungkan, dan memuliakannya.
Keenam belas, bergaul dengan akhlak yang baik seperti menampakkan wajah berseri, banyak mengucapkan  dan menyebarluaskan salam, menekan  rasa amarah dalam jiwa, tidak menyakiti orang lain, bersabar menerima cobaan dari orang lain, selalu mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan Allah, bersikap  tenang, senantiasa bersikap baik kepada  fuqara’, orang miskin, mengasihi tetangga, kerabat, murid, dan mau menolong mereka.
Ketujuh belas, membersihkan hati dan tindakan dari akhlak yang jelek dan dilanjutkan  dengan perbuatan yang baik.
Kedelapan belas, senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam setiap aktivitas ibadah, seperti membaca, menelaah, menghafal, sehingga tidak ada waktu yang terbuang kecuali untuk mencari ilmu dan mengamalkannya.
Kesembilan belas, tidak boleh membeda-bedakan  status, nasab, dan usia  dalam mengambil hikmah dari semua orang. Bahkan, seorang guru harus mencari faedah  di mana pun ia berada.
Kedua puluh,  membiasakan diri untuk menyusun  dan merangkum pengetahuan. Karena, hal itu akan memperdalam pengetahuan dan memperbanyak pembahasan dan rujukan.
Dari keterangan diatas  dapat diambil kesimpulan, menjadi seorang guru tidaklah mudah namun  betapa mulia peran seorang guru, selain ia harus mendidik,  seorang guru harus terlebih dahulu memiliki kekuatan spiritual,  atau keagamaan yang kokoh dan ideal, penuh kedisiplinan, memahami betul visi misi pendidikan, mempunyai kemampuan intelektual yang memadai, memiliki trik, teknik,  dalam membawakan pembelajaran dengan cara kreatif, inovatif sehingga menarik dan menyenangkan bagi anak didik.

D.       Fungsi dan Tugas Guru
Menurut Daoed Joesoep (Marno ,2014:18) , mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983, mengemukakan tiga misiatau fungsi guru: fungsi professional, fungsi kemanusiaan dan fungsi civic mission. Fungsi professional berarti gurumeneruskan  ilmu/keterampilan/pengalaman yang dimilikiatau dipelajari kepada anak didiknya.Fungsi kemanusiaan berartiberusaha membina/mengembangkan segala potensi bakat/pembawaa yang ada pada diri anak serta  membentuk wajah ilahi dalam dirinya.Fungsi  civic mission berarti guru wajib menjadikan anak didiknya  menjadi warga Negara yang baik, yaitu yang berjiwa patriotic, mempunyai semangat kebangsaan nasional dan disiplin atau taat terhadap semua peraturan perundang-undangan yang berlaku atas dasar Pancasila dan UUD 1945.
Guru mempunyai peranan penting  dalam kesuksesan pendidikan yang dicanangkan, ada fungsi dan tugas lain seorang guru, antara lain  :
1.      Educator (pendidik)
Ilmu adalah syarat utama yang harus dimiliki guru sebagai seorang educator. Guru harus senantiasa membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti informasi, dan responsive terhadap masalah yang  terkini sangat menunjang peningkatan kualitas  ilmu guru.
Sebagai pendidik harus  memahami globalisasi. Guru harus membentengi anak didiknya dari dampak negatif budaya global.Guru  memiliki peranan besar  menjadi pembangkit semangat anak didik, untuk memiliki pertahanan yang kuat ketika diserang dengan  godaan-godaan yang memikat dan melenakan.
Dalam mendidik, seorang guru tidak cukup hanya  sekedar transfer of knowledge (memindah ilmu pengetahuan)dari sisi luarnya saja, tapi juga transfer of value (memindah  nilai) dari sisi dalamnya. Perpaduan dalam  dan luar inilah  yang akan mengokohkan bangunan pengetahuan, moral, dan kepribadian murid dalam menyongsong masa depannya.
2.      Leader (pemimpin)
Guru sebagai pemimpin kelas.  Guru harus bisa mennguasai, mengendalikan, dan mengarahkan kelas  menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang berkualitas.
      Seorang guru senantiasa mengedepankan musyawarah dengan murid-muridnya untuk mencapai kesepakatan bersama yang dihargai semua pihak. Ia juga senantiasa mendengarkan aspirasi murid-muridnya mengenai pembelajaran yang disampaikannya, walau  itu berupa kritik pedas sekalipun.
Foto. Guru sebagai pendidik dan  pemimpin di kelas
          Guru  senantiasa mengarahkan suasana kelas dalam suasana  dan kondisi belajar dalam kelas agar menjadi kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai  dengan kemampuan. Sebagai pemimpin guru harus memahami  strategi belajar mengajar yang dilakukan dikelas, sehingga  pengelolaan kelas dapat  terbentuk dengan baik dalam mencapai situasi pembelajaran yang berhasil.
3.      Fasilitator
          Guru bertugas  memfasilitasi murid untuk menemukan dan mengembangkan  bakatnya  secara pesat. Menemukan bakat anak didiknya, eksperimentasi maksimal, latihan terus menerus, dan  evaluasi rutin dalam setiap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
         Sebagai fasilitator , guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi berikut ini.
a.       Menguasai dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi lain dengan baik.
b.      Menyukai dengan apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
c.       Memahami pengalaman , kemampuan dan prestasi peserta didik.
d.      Menggunakan metode yang bervariasi dalam  mengajar dan membentuk kompetensi peserta didik.
e.       Mengeliminasi bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam  kaitannya dengan  pembentukan kompetensi.
f.       Mengikuti perkembangan  pengetahuan mutakhir.
g.      Menyiapkan proses pembelajaran.
h.      Mendorong peserta didik  untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
i.        Menghubungkan  pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang akan dikembangkan.
          
 Dengan berkembangnya  informasi, teknologi dan globalisasi yang begitu cepat, tidak menutup kemungkinan  bahwa dalam hal tertentu peserta didiklebih pandai atau lebih dulu tahu  dari guru. Kondisi ini menuntut  guru untuk senantiasa belajar meningkatkan kemampuan, siap dan  mampu menjadipembelajar sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan  untuk belajar  dari peserta didiknya.
4.         Motivator
Seorang guru harus membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan anak didik bagaimanapun latar belakang hidup keluarganya, bagaimanapun kelam masa lalunya,  dan bagaimanapun berat tantangannya.  Guru harus mampu menyelami psikologi anak didiknya, sehingga  mengetahui kondisi lahir batinnya , guru akan memilih model apa yang cocok dalam pembelajaran yang digunakan untuk anak didiknya.
Prinsip motivasi belajar  supaya mendapat perhatian dari pihak perencanaan pengajaran, khususnya dalam rangka merencanakan  kegiatan belajar mengajar.
Prinsip motivator, yaitu : kebermaknaan, guru dapat mengaitkan pelajarannya  dengan pengalaman masa lampau siswa, tujuan-tujuan masa mendatang, minat serta nilai-nilai  yang berarti bagi mereka; Modelling, guru dapat mengajarkannya dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya  dengan menceritakannya secara lisan; komunikasi terbuka, dengan cara mengemukakan  tujuan yang hendak dicapai kepada siswa  agar mendapat perhatian  mereka,menunjukkan hubungan-hubungan kunci agar siswa benar-benar memahami apa yang sedang dibahas, menjelaskan pelajaran secara nyata; prasyarat, mengetahui prasyarat yang harus  peserta didik miliki dapat dilakukan dengan cara menganalisis terhadap tugas, topik, dan tujuan yang dicapai; Novelty, penyajian bersifat baru atau masih asing; Latihan/praktik yang aktif dan bermanfaat, dapat dilakukan dengan  meminta siswa  menyusun atau menata kembali informasi yang diperoleh dari bacaan, menyediakan  laboratorium dan situasi praktik lapangan berdasarkan tujuan pengajaran yang telah  dirumuskan sebelumnya; Latihan terbagi, dengan cara latihan dibagi-bagi menjadi  sejumlah kurun waktu  yang pendek akan lebih disenangi siswa; Kurangi secara sistematik  paksaan belajar, paksaan memang perlu diberikan kepada siswa. Akan tetapi berbeda dengan siswa yang sudah menguasai pelajaran, ada baiknya paksaan tersebut dikurangi secara sistematik, akhirnya lambat laun siswa dapat belajar sendiri; Kondisi menyenangkan, dapat dilakukan dengan cara jangan mengulang pelajaran yang sudah mereka ketahui,suasana fisik kelas jangan sampai membosankan, hindarkan terjadinya frustasi, hindarkan terjadinya suasana kelas bersifat emosional; Administrator, sebagai sorang guru  tugas aministrasi sudah melekat dalam  dirinya. Usahakan  urusan yang ada  di lingkup pendidikan formal memakai prosedur administrasi  yang rapi dan tertib; Evaluator, seorang guru senantiasa mengevaluasi setiap  pembelajaran dari kelebihan dan kelemahan yang telah dilaksanakan di kelas dan dilakukan refleksi atau perbaikan di pembelajaran berikutnya.

 Semoga bermanfaat
Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar