|
MENGENAL PROFESI GURU
|
Permasalahan belajar yang sering
dialami di dalam kelas biasanya: tidak bisa konsentrasi, tidak dapat memahami,
mudah lupa apa yang sudah diingat, dan otak merasa “penuh”/ “jenuh”.
Kegiatan yang melibatkan otak kiri
dan kanan sekaligus pasti menyenangkan, misalnya membaca komik, menonton film
kartun, atau main games. Mengapa ?. Bagaimana dengan kegiatan belajar
?.Sesuatu yang bersifat monoton dan terpola akan menyebabkan Kejenuhan Otak. Itulah yang ada pada format materi
pelajaran anak sehari-hari. Belajar akan menyenangkan kalau kita melibatkan kedua belah otak kita, yaitu
otak kiri dan otak kanan. Sedangkan Guru
yang baik adalah guru yang dapat
menyampaikan pesan kepada peserta didiknya .Lalu bagaimana dengan guru
yang Profesional ?. Mari kita kaji tentag hakikat guru berikut
A.
Pengertian
Guru
Dalam
Khazanah pemikiran Islam, istilah
guru memiliki beberapa istilah, seperti
“ustadz”, “muallim”, “muaddib”, dan
“murabbi”.. Istilah muallim lebih menekankan kepada guru sebagai pengajar dan penyampai
pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science); istilah muaddib lebih menekankan guru sebagai Pembina moralitas dan akhlak peserta didik
dengan keteladanan; sedangkan istilah murabbi
lebih menekankan pengembangan dan
pemeliharaan baik aspek
jasmaniah maupun ruhaniah. Sedangkan
istilah umum yang dipakai dan
mamiliki cakupan makna yang luas dan
netral adalah ustad yang dalam bahasa Indonesia dikenal diterjemahkan sebagai
“guru”.
Menurut Marno
(2014), guru sering dikaitkan dengan istilah bangsa sehingga menjadi guru bangsa. Istilah guru
muncul ketika sebuah bangsa mengalami
kegoncangan struktural dan kultural sehingga hamper-hampir terjerumus dalam
kehancuran. Guru bangsa adalah orang
yang dengan keluasan pengetahuan,
keteguhan komitmen, kebesaran jiwa dan pengaruh, serta keteladanannya dapat mencerahkan bangsa dari kegelapan. Guru bangsa dapat
lahir dari ulama dan agamawan, intelektual, pengusaha pejuang, birokrat, dan
lain-lain.Guru mengandung nilai, kedudukan, dan peranan mulia. Karena itu , di
dunia ini banyak orang yang bekerja
sebagai guru, akan tetapi mungkin hanya
sedikit orang yang bekerja sebagai guru, yaitu yang bisa digugu dan ditiru.
Guru adalah seorang
yang menyampaikan pesan kepada
anak didiknya, dari berbagai pengetahuan dan pengalaman yang telah didapat sehingga melekat sebagai profesi, dengan senantiasa mengikuti
kemajuan teknologi, dan terus belajar sepanjang hayat sehingga
dapat menciptakan generasi unggulan bangsa.
B.
Kriteria
Guru
Menurut Jamal
(2009) guru ideal adalah, guru yang memahami benar profesinya. Profesi guru
adalah profesi yang mulia. Dia adalah sosok yang selalu
memberi dengan tulus dan tak
mengharapkan imbalan apapun, kecuali ridha dari
Tuhan pemilik bumi. Falsafah
hidupnya adalah tangan diatas
lebih mulia daripada tangan dibawah. Hanya memberi tak harap kembali.
Dia mendidik dengan hatinya. Kehadirannya dirindukan oleh peserta didiknya.
Wajahnya selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan 5 S (salam , sapa, sopan, senyum, dan sabar) dalam kesehariannya.
Menurut
Husnul Chotimah (2008) criteria guru
ideal yang seharusnya dimiliki oleh bangsa Indonesia di abad 21 ini, yaitu dapat membagi waktu dengan baik, rajin
membaca, banyak menulis, gemar melakukan penelitian. Keempat hal diatas
diperlukan oleh seorang guru untuk
menjadi guru ideal
Dari beberapa pengertian diatas, pengertian guru dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, guru yang komunikatif. Guru yang berperan
menyampaikan pesan kepada anak didiknya sehingga dapat diingat oleh anak
didiknya sepanjang masa. Agar senantiasa diingat dalam setiap pembelajaran alangkah baiknya
guru senantiasa menyediakan media yang dapat menarik minat, perhatian, dan
motivasi siswa sehingga menjadi suatu pembelajaran yang bermakna.
Kedua,
guru adalah seorang sosok yang senantiasa
dengan tulus memberikan ilmunya, dalam dirinya meyakini bahwa ilmu yang
bermanfaat yang diberikan kepada anak didiknya dapat menjadi bekal amalan yang
takkan pernah putus. Dari keyakinan tersebut guru senantiasa mempersiapkan segala macam perlengkapan yang diperlukan
dalam setiap pembelajaran dengan tujuan anak didiknya memiliki keberhasilan dalam belajar. Keberhasilan belajar dari
berbagai Ranah, yakni ranah afektif (sikap), kognitif (ingatan), dan
psikomotorik (keterampilan).
Ketiga,
guru adalah sosok yang senang akan ilmu, dia senantiasa membaca dan
mengungkapkan ide kreatif lewat tulisan dan dapat dibawa serta bermanfaat bagi
orang yang membacanya. Dari pemikirannya membuahkan nilai-nilai yang bermanfaat demi kemajuan pendidikan
sepanjang zaman.
Keempat,
guru adalah sosok yang kreatif dan inovatif. Guru kreatif yang senantiasa mengevaluasi setiap pembelajaran yang telah
dilakukan di kelas. Dia senantiasa mengevaluasi diri apakah siswa dapat
memahami, menikmati pembelajaran yang dibawakannya, apakah dia sudah menjadi
guru yang baik. Guru kreatif dan
inovatif, yaitu guru yang dapat menjadikan suatu bahan yang ada dilingkungannya
menjadi benda yang bernilai untuk menyampaikan pesan kepada anak didiknya. Dia
senantiasa menjadi pelopor inovatif media dari bahan yang tidak dapat
digunakan menjadi barang yang istimewa yang
menjadi daya tarik, minat dan motivasi siswa dalam belajar. Sehingga guru tersebut ditunggu dan dirindu oleh anak
didiknya.
C.
Syarat
Guru
Menurut
Jamal (2012) syarat menjadi guru ideal
harus mempunyai landasan keagamaan yang kokoh dan disiplin, memahami
visi misi pendidikan secara holistik dan integral, mempunyai kemampuan intelektual yang memadai, menguasai teknik pembelajaran yang kreatif.
Dalam
perspeksif agama, syarat menjadi guru ideal sebagaimana disampaikan KH. Moh. Hasyim As’ari, ada 20 (dua puluh)
macam.
Pertama,
senantiasa istiqamah dalam muraqabah kepada Allah SWT. Muraqabah adalah melihat Allah Swt. Dengan mata hati
dan menghubungkannya dengan perbuatan yang dilakukan selama ini, kemudian
mengambil hikmah atau jalan yang terbaik
bagi dirinya dengan merasakan adanya
pemantauan Allah swt terhadap dirinya.
Kedua,
senantiasa berlaku khauf (takut kepada
Allah Swt) dalam segala ucapan dan tindakan. Sebab guru adalah orang yang dipercaya untuk menjaga amanat, baik itu berupa ilmu,
hikmah, dan perasaaan takut kepada Allah Swt. Sedangkan kebalikan dari itu
adalah khianat.
Ketiga,
senantiasa bersikap tenang.
Keempat, senantiasa bersifat wara’. Wara adalah keluar dari setiap pekara subhat dan
mengoreksi diri dalam setiap keadaan.
Kelima, selalu bersikap tawadhuk. Tawadhuk
adalah merendahkan diri dan
melembutkan diri terhadap makhluk,
ataupun patuh terhadap kebenaran dan tidak berpaling dari hikmah, hokum dan
kebijaksanaan.
Keenam,
selalu bersikap khusuk kepada Allah swt.Dalam sebuah surat yang ditulis Imam
Malik kepada Harun ar-Rasyid terungkap, “Apabila engkau mengerti suatu ilmu,
maka engkau akan melihat pengaruh ilmu
tersebut berwibawa, tenang, dan dermawan, karenaRasulullah bersabda, “Para
ulamaadalah pewaris para nabi.”
Ketujuh,
menjadikan Allah Swt . sebagai tempat
meminta pertolongan dalam segala
keadaan.
Kedelapan,
tidak menjadikan ilmunya sebagai tangga mencapai keuntungan duniawi , baik
jabatan, harta, popularitas, atau agar lebih maju disbanding temannya yang
lain.
Kesembilan,
tidak diskriminatif terhadap murid.
Kesepuluh,
bersikap zuhud (menolah kesenangan
ayau kecintaan) dalam urusan dunia sebatas apa yang ia
butuhkan, yang tidak membahayakan
dirinya sendiri, keluarga, bersikap sederhana dan bersikap qana’ah.
Kesebelas,
menjauhkan diri dari tempat-tempat yang rendah dan hina menurut manusia, juga
hal-hal yang dibenci oleh syariat atau adab setempat.
Kedua
belas, menjauhkan diri dari tempat-tempat
kotor dan maksiat walaupun jauh dari keramaian. Jangan melakukan sesuatu yang bisa mengurangi sifat muru’ah
(menjaga diri dari perbuatan yang tidak
terpuji).
Ketiga
belas,
selalu menjaga syiar-syiar Islam dan
zhahir-zhahir hukum, seperti shalat berjamaah di masjid, menyebarkan
salam, amar ma’ruf nahi munkar, serta senantiasa sabar terhadap musibah yang
menimpanya. Selalu berpegang pada kebenaran walaupun kepada para penguasa serta
memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. Tidak pernah merasa gentar, ataupun terhadap cacian
orang.
Keempat
belas, menegakkan sunnah-sunnah dan menghapus hal yang mengandung unsur bid’ah, menegakkan
segala hal yang mengandung kemaslahatan bagi
kaum muslimin dengan jalan yang dibenarkan syariat, dengan cara yang
baik dan lembut, baik menurut adat istiadat maupun watak.
Kelima
belas, membiasakan diri melakukan sunnah yang
bersifat syariat, baik qauliyah atau
fi’liyah, seperti membiasakan diri
membaca ayat-ayat suci Al-Qur’anbaik di
hati atau di lisan, berdoa dan berdzikir baik siang maupun malam, mendirikan
shalat, puasa , berhaji apabila sudah mampu, membaca shalawat kepada Nabi Saw.,
mencintai, mengagungkan, dan memuliakannya.
Keenam
belas, bergaul dengan akhlak yang baik
seperti menampakkan wajah berseri, banyak mengucapkan dan menyebarluaskan salam, menekan rasa amarah dalam jiwa, tidak menyakiti orang
lain, bersabar menerima cobaan dari orang lain, selalu mensyukuri segala
kenikmatan yang diberikan Allah, bersikap
tenang, senantiasa bersikap baik kepada
fuqara’, orang miskin, mengasihi tetangga, kerabat, murid, dan mau
menolong mereka.
Ketujuh
belas, membersihkan hati dan tindakan dari
akhlak yang jelek dan dilanjutkan dengan
perbuatan yang baik.
Kedelapan
belas,
senantiasa bersemangat untuk mengembangkan ilmu dan bersungguh-sungguh dalam
setiap aktivitas ibadah, seperti membaca, menelaah, menghafal, sehingga tidak
ada waktu yang terbuang kecuali untuk mencari ilmu dan mengamalkannya.
Kesembilan
belas, tidak boleh membeda-bedakan status, nasab, dan usia dalam mengambil hikmah dari semua orang.
Bahkan, seorang guru harus mencari faedah
di mana pun ia berada.
Kedua
puluh,
membiasakan diri untuk menyusun
dan merangkum pengetahuan. Karena, hal itu akan memperdalam pengetahuan
dan memperbanyak pembahasan dan rujukan.
Dari
keterangan diatas dapat diambil
kesimpulan, menjadi seorang guru tidaklah mudah namun betapa mulia peran seorang guru, selain ia
harus mendidik, seorang guru harus
terlebih dahulu memiliki kekuatan spiritual,
atau keagamaan yang kokoh dan ideal, penuh kedisiplinan, memahami betul
visi misi pendidikan, mempunyai kemampuan intelektual yang memadai, memiliki
trik, teknik, dalam membawakan
pembelajaran dengan cara kreatif, inovatif sehingga menarik dan menyenangkan
bagi anak didik.
D.
Fungsi
dan Tugas Guru
Menurut
Daoed Joesoep (Marno ,2014:18) , mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan
1978-1983, mengemukakan tiga misiatau fungsi guru: fungsi professional, fungsi
kemanusiaan dan fungsi civic mission.
Fungsi professional berarti
gurumeneruskan
ilmu/keterampilan/pengalaman yang dimilikiatau dipelajari kepada anak
didiknya.Fungsi kemanusiaan berartiberusaha
membina/mengembangkan segala potensi bakat/pembawaa yang ada pada diri anak
serta membentuk wajah ilahi dalam
dirinya.Fungsi civic mission berarti guru wajib menjadikan anak didiknya menjadi warga Negara yang baik, yaitu yang
berjiwa patriotic, mempunyai semangat kebangsaan nasional dan disiplin atau
taat terhadap semua peraturan perundang-undangan yang berlaku atas dasar
Pancasila dan UUD 1945.
Guru
mempunyai peranan penting dalam
kesuksesan pendidikan yang dicanangkan, ada fungsi dan tugas lain seorang guru,
antara lain :
1. Educator
(pendidik)
Ilmu
adalah syarat utama yang harus dimiliki guru sebagai seorang educator. Guru
harus senantiasa membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti informasi, dan
responsive terhadap masalah yang terkini
sangat menunjang peningkatan kualitas
ilmu guru.
Sebagai
pendidik harus memahami globalisasi.
Guru harus membentengi anak didiknya dari dampak negatif budaya
global.Guru memiliki peranan besar menjadi pembangkit semangat anak didik, untuk
memiliki pertahanan yang kuat ketika diserang dengan godaan-godaan yang memikat dan melenakan.
Dalam
mendidik, seorang guru tidak cukup hanya
sekedar transfer of knowledge
(memindah ilmu pengetahuan)dari sisi luarnya saja, tapi juga transfer of value (memindah nilai) dari sisi dalamnya. Perpaduan
dalam dan luar inilah yang akan mengokohkan bangunan pengetahuan,
moral, dan kepribadian murid dalam menyongsong masa depannya.
2. Leader
(pemimpin)
Guru
sebagai pemimpin kelas. Guru harus bisa
mennguasai, mengendalikan, dan mengarahkan kelas menuju tercapainya tujuan pembelajaran yang
berkualitas.
Seorang guru senantiasa mengedepankan
musyawarah dengan murid-muridnya untuk mencapai kesepakatan bersama yang
dihargai semua pihak. Ia juga senantiasa mendengarkan aspirasi murid-muridnya
mengenai pembelajaran yang disampaikannya, walau itu berupa kritik pedas sekalipun.
Guru
senantiasa mengarahkan suasana kelas dalam suasana dan kondisi belajar dalam kelas agar menjadi
kondusif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan
baik sesuai dengan kemampuan. Sebagai
pemimpin guru harus memahami strategi
belajar mengajar yang dilakukan dikelas, sehingga pengelolaan kelas dapat terbentuk dengan baik dalam mencapai situasi
pembelajaran yang berhasil.
3. Fasilitator
Guru bertugas memfasilitasi murid untuk menemukan dan
mengembangkan bakatnya secara pesat. Menemukan bakat anak didiknya,
eksperimentasi maksimal, latihan terus menerus, dan evaluasi rutin dalam setiap pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
Sebagai fasilitator , guru dituntut
untuk memiliki berbagai kompetensi berikut ini.
a. Menguasai
dan memahami kompetensi dasar dan hubungannya dengan kompetensi lain dengan
baik.
b. Menyukai
dengan apa yang diajarkannya dan menyukai mengajar sebagai suatu profesi.
c. Memahami
pengalaman , kemampuan dan prestasi peserta didik.
d. Menggunakan
metode yang bervariasi dalam mengajar
dan membentuk kompetensi peserta didik.
e. Mengeliminasi
bahan-bahan yang kurang penting dan kurang berarti dalam kaitannya dengan pembentukan kompetensi.
f. Mengikuti
perkembangan pengetahuan mutakhir.
g. Menyiapkan
proses pembelajaran.
h. Mendorong
peserta didik untuk memperoleh hasil
yang lebih baik.
i.
Menghubungkan pengalaman yang lalu dengan kompetensi yang
akan dikembangkan.
Dengan berkembangnya informasi, teknologi dan globalisasi yang
begitu cepat, tidak menutup kemungkinan
bahwa dalam hal tertentu peserta didiklebih pandai atau lebih dulu
tahu dari guru. Kondisi ini menuntut guru untuk senantiasa belajar meningkatkan
kemampuan, siap dan mampu menjadipembelajar
sepanjang hayat, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk belajar
dari peserta didiknya.
4.
Motivator
Seorang
guru harus membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan anak didik
bagaimanapun latar belakang hidup keluarganya, bagaimanapun kelam masa
lalunya, dan bagaimanapun berat
tantangannya. Guru harus mampu menyelami
psikologi anak didiknya, sehingga
mengetahui kondisi lahir batinnya , guru akan memilih model apa yang
cocok dalam pembelajaran yang digunakan untuk anak didiknya.
Prinsip
motivasi belajar supaya mendapat
perhatian dari pihak perencanaan pengajaran, khususnya dalam rangka
merencanakan kegiatan belajar mengajar.
Prinsip
motivator, yaitu : kebermaknaan, guru dapat mengaitkan pelajarannya dengan pengalaman masa lampau siswa,
tujuan-tujuan masa mendatang, minat serta nilai-nilai yang berarti bagi mereka; Modelling,
guru dapat mengajarkannya dalam bentuk tingkah laku model, bukan hanya dengan menceritakannya secara lisan; komunikasi
terbuka, dengan cara mengemukakan
tujuan yang hendak dicapai kepada siswa
agar mendapat perhatian
mereka,menunjukkan hubungan-hubungan kunci agar siswa benar-benar
memahami apa yang sedang dibahas, menjelaskan pelajaran secara nyata;
prasyarat, mengetahui prasyarat yang harus
peserta didik miliki dapat dilakukan dengan cara menganalisis terhadap
tugas, topik, dan tujuan yang dicapai; Novelty, penyajian bersifat baru
atau masih asing; Latihan/praktik yang aktif dan bermanfaat, dapat dilakukan
dengan meminta siswa menyusun atau menata kembali informasi yang
diperoleh dari bacaan, menyediakan
laboratorium dan situasi praktik lapangan berdasarkan tujuan pengajaran
yang telah dirumuskan sebelumnya; Latihan
terbagi, dengan cara latihan dibagi-bagi menjadi sejumlah kurun waktu yang pendek akan lebih disenangi siswa; Kurangi
secara sistematik paksaan belajar,
paksaan memang perlu diberikan kepada siswa. Akan tetapi berbeda dengan siswa
yang sudah menguasai pelajaran, ada baiknya paksaan tersebut dikurangi secara
sistematik, akhirnya lambat laun siswa dapat belajar sendiri; Kondisi
menyenangkan, dapat dilakukan dengan cara jangan mengulang pelajaran
yang sudah mereka ketahui,suasana fisik kelas jangan sampai membosankan,
hindarkan terjadinya frustasi, hindarkan terjadinya suasana kelas bersifat
emosional; Administrator, sebagai sorang guru tugas aministrasi sudah melekat dalam dirinya. Usahakan urusan yang ada di lingkup pendidikan formal memakai prosedur
administrasi yang rapi dan tertib; Evaluator,
seorang guru senantiasa mengevaluasi setiap
pembelajaran dari kelebihan dan kelemahan yang telah dilaksanakan di
kelas dan dilakukan refleksi atau perbaikan di pembelajaran berikutnya.
Semoga bermanfaat
Dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar