Di tengah era informasi sekarang ini, duni tulis
menulis menjadi bagian yang tidak
terpisahkan . Dengan menulis orang bisa menyuarakan aspirasinya, berupa ide, gagasan, laporan
peristiwa, persoalan masyarakat, keadaan ekonomi, sosial, budaya, dan politik
secara lugas, objektif, transparan, dan argumentatif serta berdimensi sosial. JIka tulisan tersebut
dimuat di tingkat nasional, maka
bisa dibaca oleh masyarakat luas.
Untuk menjadi guru ideal, seorang pendidik harus memiliki kemampuan menulis
yang baik, khususnya menulis karya ilmiah. Dunia tulis menulis menjadi ikon dunia saat ini. Ia bisa menjadi
instrument perjuangan, pengabdian, dan
pemberdayaan. Namun ia juga bisa berlaku sebaliknya, menjadi alat provokasi,
manipulasi, dan pembodohan. Semua tergantung karakter , motif, dan orientasi
penulis.
Untuk menjadi seotrang guru
yang baik dan professional, seorang pendidik harus memiliki kemampuan
menulis yang baik, khususnya menulis karya
ilmiah. Sayang, dinegeri ini, kemempuan menulis karya ilmiah ini sangat rendah.
Jika murid pandai menulis, dan kelak
menjadi guru yang terus menulis, maka
iklim intelektual di negeri ini akan
berkembang dengan pesatdan produktif, bisa sejajar dengan bangsa lain yang sudah kuat
tradisi kepenulisannya. Jika
kesadaran guru sudah meningkat dalam aspek jurnalistik ini, maka pendidikan
negeri ini akan maju dengan pesat.
A.
Alasan,
Guru Takut Menulis PTK
Beberapa faktor yang menyebabkan guru belum melakukan PTK di dalam proses pembelajarannya
disekolah. Faktor-faktor tersebut dapat
kita lihat pada bagan berikut :
1.
Kurang
memahami profesi guru
Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia.
Para guru hendaknya menyadari profesi mulia ini. Guru yang baik bukan hanya
mentransfer ilmu tetapi juga menjadi
sosok yang ditiru dan digugu untuk memberikan teladan kepada anak didiknya.
Tidak hanya ucapan tetapi tndakan. Profesi guru tidak hanya mulia dihadapan
manusia tetapi dihadapan Allah Swt.
Secara normatif, kedudukan guru
dalam Islam sangat mulia. Tidak sedikit penulis yang menyimpulkan kedudukan
guru setingkat di bawah kedudukan nabi
dan rasul, seraya mengemukakan Hadits
Nabi dan perkataan ulama: “Tinta para
ulama lebih baik darahnya dari pada darah para syuhada”. Penyair Syauki,
sebagaimana dikutip Al- Abrasyi, berkata
:“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah
penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.
Profesi guru sangat menjanjikan untuk mereka yang berhati mulia. Karena itu
guru harus dapat mengajar dan mendidik
dengan hatinya agar dapat menjadi mulia.
Hati yangbersih dan suci akan terpancar
dari wajahnya yang selalu ceria, senang dan selalu menerapkan 5 S dalam kesehariannya.
2. Guru Malas membaca
Dalam membaca guru akan membuka wawasan
yang luas.Sebelum membaca sudah barang tentu harus ada minat, dan
keinginan guru untuk tertarik membuka
lembaran buku-buku tersebut. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat guru kurang sekali waktu untuk membaca. Kita dapat melihat di perpustakaan sekolah.
Sangat jarang guru mau menghampiri dan membaca buku yangada
diperpustakaan sekolah.
Kenyataan ini sering terjadi di sekolah
kita,. Bukan hanya disekolah, di rumah pun
guru malas membaca. Gulu harus dapat melawan kebiasaan malas membaca. Guru sering menyuruh
anak didiknya untuk senantiasa membaca. Guru pun harus lebih aktif membuka, membaca, dan memahami apa yang
dibacanya untuk membuka jendela dunia.
Kata pepatah mengatakan, Siapa yangrajin membaca, maka ia akan kaya
ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru
dengan sering membaca ketika anak didiknya bertanya akan dapat menjawab
pertanyaan siswanya dengan cepat dan benar. Wawasan guru yang rajin membaca,
akan terlihat dari cara bicara dan
menyampaikan pengajarannya.
3. Guru Malas Menulis
Menulis ibarat pisau yang kalau
tidak sering diasah, maka akan tumpul dan berkarat. Guru yang rajin menulis ,
akan mempunyai kekuatan tulisan yang
sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisan sangat menyentuh hati, dan
bermakna. Runut serta mudah dicerna bagi siapa saja yang membacanya.
Menulis untuk hidup, hidup untuk menulis. Bagi mereka yang sudah terbiasa
menulis, pasti matang pengalamannya. Kemampuan
guru menulis baik, bila
tulisannya layak dibaca banyak orang. Bermakna dan mempunyai daya tarik
tersendiri.
Untuk memotivasi menulis bagi para
guru tercinta. Semoga kalimat ini dapat menggugah semangat guru untuk menulis.
Dengan
menulis, aku ada
Dengan
menulis, aku hidup
Dengan
menulis, aku membaca
Dengan
menulis, aku dibaca
Dengan
menulis, aku mengetahui
Dengan
menulis, aku diketahui
Dengan
menulis, aku dimengerti
Dengan
menulis, aku menghargai
Dengan
menulis, aku dihargai
Dengan
menulis, aku berubah
Dengan
menulis, aku mengubah
Dengan
menulis, aku beribadah
Dengan
menulis, aku berdakwah
Dengan
menulis, aku bersaudara
Dengan
menulis, aku mengabdi
Dengan
menulis, aku menjadi diri sendiri
Imam Alghazali berkata, “Kalau
engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama
besar,maka jadila penulis, dengan menulis kita bisa mencerdaskan berjuta-juta manusia tanpa batas.
4. Kurang Sensitif
Terhadap Waktu
Kata
pepatah mengatakan ,
“Apabila kita memuliakan waktu , maka waktu
akan menjadikan kita orang mulia”
Bagi orang barat mengatakan “ Waktu adalah Uang”. Bagi guru, waktu
lebih sekedar dari uang dan bahkan bagaikan pedang yang tajam yang dapat membunuh siapa saja termasuk pemiliknya. Pedang yang tajam
dapat membantu guru menghadapi hidup ini, namun bisa juga sebagai pembunuh dirinya sendiri. Bagi guru yang
kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan
terbunuh oleh waktu yang telah ia sia-siakan.
Detik demi detik waktunya teratur, terjaga dari sesuatu yang kurang baik dan sangat berharga.
5. Terjebak ke dalam
Rutinitas Kerja
Rutinitas
kerja tanpa sadar membuat guru terpola
menjadi guru pasif bukan aktif. Hari-harinya diisi hanya untuk mengajar saja. Dia tidak mendidik dengan hati. Waktunya
disekolah sebatas sebagai tugas rutin
mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru
hanya transfer of knowledge. Tidak peduli dengan lingkungan dan kondisi
sekolah apalagi kondisi siswa.
6. Kurang Kreatif dan
Inovatif
Karena jenjang pendidikan guru dan
pengalaman mengajarnya sudah sangat banyak, merasa guru menjadi kurang kreatif. Guru malas mencoba sesuatu yang baru dalam pembelajarannya. Dia merasa
sudah cukup. Tidak ada keinginan dan usaha untuk menciptakan sesuatu yang baru
dari pembelajarannya. Dari tahun ketahun gaya mengajarnya sama. RPP yang dibuat
dari tahun ketahun gayanya sama hanya
mang copy paste dari orang lain. Guru
menjadi tidak kreatif. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Agar menjadi
kreatif harus msmiliki kemauan untuk
melakukan inovasi terus menerus, tiada
henti.
Guru kreatif senantiasa bertanya ,
apakah ia sudah menjadi guru yang baik
?. Merasa bersalah apabila dalam pembelajaran tidak melaksanakan dengan baik dan tidak membuat siswa paham dan
senang dalam pembelajaran yang dibuatnya. Guru kreatif senantiasa membuat suatu cara dengan apa, bagaimana,
cara guru agar dapat membuat suatu
alat atau strategi agar anak didiknya
dapat senang, tertarik, dan menjadi
pembelajaran yang bermakna di dalam kelasnya bersama guru tersebut.
7. Guru Malas Meneliti
Setiap tahun pemerintah maupun swasta melakukan lomba karya tulis ilmiah untuk para guru, dengan harapan guru mau meneliti.
Namun, hanya sedikit guru yang memanfaatkan
peluang ini dengan baik. Padahal inimerupakan kesempatan baik bagi guru untuk
berlatih menulis, dan mendorong guru untuk meneliti. Dari penelitian itu guru
akan mengetahui kualitas pembelajarannya.
Apabila dalam penelitian tersebut telah
dievaluasi kekurangan dan kelebihannya serta di refleksikan pada pembelajaran
berikutnya. Guru akan menemukan banyak ide
terus menerus bagaimana agar pembelajaran yang guru bawakan lebih baik.
Selama pengalamannya dalam penelitian, guru tersebut harus memberikan pengalamanya kepada teman
guru lainnya dengan menyeminarkan
minimal di tingkat sekolah, lebih baik lagi di tingkat nasional.
Agar inovasi pembelajaran yang guru
lakukan dapat diadaptasikna di sekolah lain. Sehingga apa yang ditelitinya
merupakan sumbangan terbaik, karya inovasi yang sangat bermanfaat bagi dunia
pendidikan.
8. Kurang Memahami PTK
Kebanyakan guru menganggap PTK itu
sulit. Padahal PTK tidak sesulit yang
dibayangkan. PTK dilakukan dari keseharian kita mengajar. Tidak ada yang sulit,
semua dilakukan dengan mudah bagaimana
daam keseharian kita mengajar. Guru hanya perlu merenung sedikit tentang proses
pembelajarannya.
Melalui buku ini, penulis ingin memberikan wawasan pada guru pentingnya PTK guna memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Bila kualitas pembelajaran meningkat,
maka akan meningkat pula mutu pendidikan
di sekolah kita.
B.
Manfaat
Menulis
Banyak sekali manfaat yang kita
peroleh dari menulis. The liang Gie
(Jamal, 2012: 184) memaparkan enam manfaat menulis, yaitu :
1. Nilai
Kecerdasan
Dengan
sering menulis, seorang penulis dituntut
untuk menghubungkan buah-buah
pikiran pikiran satu dengan yang lain,
merencanaka apa yang akan dia sampaikan,
menimbang perkataan yang tepat untuk disampaikan agar mudah dipahami dan
menarik minat baca orang lain, menganalisis informasi yang diperoleh dari
berbagai sumber. Adanya aktivitas ini
akan selalu menambah daya pikirnya, kemampuan imajinasi dan
kreativitasnya, serta memori kecerdasannya.
2. Nilai
Kependidikan
Pengalaman
penulis selama menulis naskah dalam
mengawali penulisan, walaupun naskah
belum diterbitkan atau sering kali
ditolak oleh penerbit, namun tidak patah semangat. Karena tujuan penulis
berawal dari belajar memahami apa
yang ditulis dalam naskah tersebut
. seringnya ditolak, bukan berarti
karya tersebut tidak baik, minimal kita
juga bangga telah meluangkan waktu untuk
mengkaji suatu teori yang ada dalam otak kita dengan menuliskan nya
dalam bentuk naskah. Sesungguhnya itu telah melatih diri menjadi tabah, ulet, dan tekun sehingga
pada suatu hari mencapai suatu keberhasilan. Ini adalah pendidikan yang luar
biasa bagi seorang penuis sejati.
3. Nilai
Kejiwaan
Keuletan
dituntut bagi seorang penulis, terus
mengarang yang pada akhirnya
tulisannya dimuat di Koran atau majalah terkenal atau diterbitkan sebagai buku
oleh penerbit terkenal.
4. Nilai
Kemasyarakatan
Seorang
penulis yang sukses, tulisannya akan
dibaca banyak orang, diapresiasi,
menjadi sumber inspirasi, dan akhirnya menjadi rujukan masyarakat.
Disini penulis akan memperoleh penghargaan masyarakat yang luar biasa, baik
berupa pujian dan keteladanan, ataupun
penghargaan yang lain.
5. Nilai
Keuangan
Penulis
yang tulisannya dimuat akan memperoleh uang dari pihak yang menerbitkan karya-karyanya. Makin maju sebuah Negara, makin cerah masa depan
panulis.
6. Nilai
kefilsafatan
Salah
satu gagasan yang besar yang digumuli
para ahli pikir sejak dulu adalah keabadian. Jasad orang arif tak akan abadi,
tetapi buah pikiran mereka kekal , karena diabadikan melalui karangan yang ditulis.
Islam sangat mendorong umatnya untuk menulis. Tidak
tanggung-tanggung, motivasi menulis
tersebut langsung turun tatkala Allah Swt. menurunkan wahyu pertama kalinya kepada Muhammad di’ Gua
Hira’. Firman Allah :
“
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang
menciptakan. Ia menciptakan manusia dari darah yang kental. Bacalah demi Tuhanmu yang mulia, yang
mengajari (manusia) dengan pena, mengajari manusia sesuatu yang tidakdiketahui”.(Qs.Al-Alaq 98:1-5)
Dalam ayat yang sangat monumental ini, sangat jelas
bagaimana Allah menempatkan pena (alat untuk menulis) sebagai komponen vital
dalam mencerdaskan manusia. Pena sebagai
simbol tulisan digabungkan dengan
membaca. Sebuah kombinasi sinergis. Membaca dan menulis adalah dua aktivitas
yang tidak dapat dipisahkan. Laksana dua
sisi mata uang.
C.
Syarat
Menjadi Penulis
Syarat menjadi
penulis adalah :rajin membaca. Pada dasarnya adalah menulis mengeluarkan isi pikiran. Kalau isi kepala
kosong, maka isi tulisan kosong.Syarat
menjadi penulis, yaitu : Membaca dari berbagai sumber, adalah kagiatan yang
harus dilakukan penulis; semangat pantang menyerah, berkarya seakan tidak
pernah memperdulikan apakah
artikelnya diterbitkan atau tidak. Suatu saat pasti akan ada yang menerima karya kita, keyakinan juga harus ada pada
diri seorang penulis, dan : fokus pada bidang ilmu yang dikuasai, dengan
memperdalam suatu ilmu pengetahuan secara mendalam, supaya tulisan menjadi tajam, berbobot, dan
terarah.
D.
Menjadi
Penulis Profesional
Menulis
merupakan keterampilan, skills. Jadi syarat utama menulis adalah latihan terus
menerus, tanpa kenal lelah. Lalu jadikan aktivitas menulis menjadi profesi.
Senantiasa menginformasikan atau mempublikasikan tulisan.Penulis harus
memiliki cita-cita menjadi orang sukses kerja keras, mempunyai visi-misi
yang kuat, loyalitas, dan kontinuitas.
Tentunya
proses adalah waktu bagi seorang penulis untuk memiliki trik, dan gaya sendiri
dalam menulis agar dapat dinikmati oleh
publik. Semua usaha yang silakukan terus menerus, panuh dengan keyakinan,
dan pantang menyerah itu merupakan seorang penulis profesional
Dari berbagai sumber
Smoga bermanfaat