Minggu, 19 Maret 2017

Kita tingkatkan Tradisi Menulis


Di tengah  era informasi sekarang ini, duni tulis menulis menjadi bagian yang  tidak terpisahkan . Dengan menulis orang bisa menyuarakan  aspirasinya, berupa ide, gagasan, laporan peristiwa, persoalan masyarakat, keadaan ekonomi, sosial, budaya, dan politik secara lugas, objektif, transparan, dan argumentatif  serta berdimensi sosial. JIka tulisan  tersebut  dimuat di tingkat nasional, maka  bisa dibaca oleh masyarakat luas.
            Untuk menjadi guru ideal, seorang  pendidik harus memiliki kemampuan menulis yang baik, khususnya menulis karya ilmiah. Dunia tulis menulis  menjadi ikon dunia saat ini. Ia bisa menjadi instrument  perjuangan, pengabdian, dan pemberdayaan. Namun ia juga  bisa  berlaku sebaliknya, menjadi alat provokasi, manipulasi, dan pembodohan. Semua tergantung karakter , motif, dan orientasi penulis.
            Untuk menjadi  seotrang guru  yang baik dan professional, seorang pendidik harus memiliki kemampuan menulis yang baik, khususnya menulis karya  ilmiah. Sayang, dinegeri ini, kemempuan menulis karya ilmiah  ini sangat rendah.
            Jika murid pandai menulis, dan kelak menjadi guru  yang terus menulis, maka iklim  intelektual di negeri ini akan berkembang dengan pesatdan produktif, bisa sejajar dengan bangsa lain yang  sudah kuat  tradisi  kepenulisannya. Jika kesadaran  guru sudah meningkat  dalam aspek jurnalistik ini, maka pendidikan negeri ini akan maju dengan pesat.
A.       Alasan, Guru  Takut Menulis PTK
Beberapa faktor  yang menyebabkan guru belum  melakukan PTK di dalam proses pembelajarannya disekolah. Faktor-faktor tersebut  dapat kita lihat pada bagan berikut :
1.      Kurang memahami profesi guru
Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Para guru hendaknya menyadari profesi mulia ini. Guru yang baik bukan hanya mentransfer ilmu tetapi juga  menjadi sosok yang ditiru dan digugu untuk memberikan teladan kepada anak didiknya. Tidak hanya ucapan tetapi tndakan. Profesi guru tidak hanya mulia dihadapan manusia  tetapi dihadapan Allah Swt.
Secara normatif, kedudukan guru dalam Islam sangat mulia. Tidak sedikit penulis yang menyimpulkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan  nabi dan rasul, seraya mengemukakan  Hadits Nabi dan  perkataan ulama: “Tinta para ulama lebih baik darahnya dari pada darah para syuhada”. Penyair Syauki, sebagaimana  dikutip Al- Abrasyi, berkata :“Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.
Profesi guru sangat menjanjikan  untuk mereka yang berhati mulia. Karena itu guru harus dapat mengajar  dan mendidik dengan  hatinya agar dapat menjadi mulia. Hati yangbersih dan suci  akan terpancar dari wajahnya  yang selalu ceria,  senang dan selalu menerapkan  5 S dalam kesehariannya.
2.      Guru Malas membaca
Dalam membaca guru akan membuka  wawasan   yang luas.Sebelum membaca sudah barang tentu harus ada minat, dan keinginan guru  untuk tertarik membuka lembaran buku-buku tersebut. Kesibukan-kesibukan mengajar membuat  guru kurang sekali  waktu untuk membaca. Kita dapat melihat  di perpustakaan  sekolah.  Sangat jarang guru mau menghampiri dan membaca buku yangada diperpustakaan sekolah.
Kenyataan ini sering terjadi di sekolah kita,. Bukan hanya disekolah, di rumah pun  guru malas membaca. Gulu harus dapat melawan  kebiasaan malas membaca. Guru sering menyuruh anak didiknya untuk senantiasa membaca. Guru pun harus lebih aktif  membuka, membaca, dan memahami apa yang dibacanya untuk membuka  jendela dunia.
Kata pepatah mengatakan,  Siapa yangrajin membaca, maka ia akan kaya ilmu, namun bila kita malas membaca, maka kemiskinan ilmu akan terasa. Guru dengan sering membaca ketika anak didiknya bertanya akan dapat menjawab pertanyaan siswanya dengan cepat dan benar. Wawasan guru yang rajin membaca, akan terlihat dari cara bicara dan  menyampaikan pengajarannya.
3.      Guru  Malas Menulis
              Menulis  ibarat pisau yang kalau tidak sering diasah, maka akan tumpul dan berkarat. Guru yang rajin menulis , akan  mempunyai kekuatan tulisan yang sangat tajam, layaknya sebilah pisau. Tulisan sangat menyentuh hati, dan bermakna. Runut  serta mudah dicerna  bagi siapa saja yang membacanya.
              Menulis untuk hidup, hidup untuk menulis. Bagi mereka yang sudah terbiasa menulis, pasti matang pengalamannya. Kemampuan  guru menulis baik,  bila tulisannya layak dibaca banyak orang. Bermakna dan mempunyai daya tarik tersendiri.
            Untuk memotivasi menulis bagi para guru tercinta. Semoga kalimat ini dapat menggugah semangat guru untuk menulis.
Dengan menulis, aku ada
Dengan menulis, aku hidup
Dengan menulis, aku membaca
Dengan menulis, aku dibaca
Dengan menulis, aku mengetahui
Dengan menulis, aku diketahui
Dengan menulis, aku dimengerti
Dengan menulis, aku menghargai
Dengan menulis, aku dihargai
Dengan menulis, aku berubah
Dengan menulis, aku mengubah
Dengan menulis, aku beribadah
Dengan menulis, aku berdakwah
Dengan menulis, aku bersaudara
Dengan menulis, aku mengabdi
Dengan menulis, aku menjadi diri sendiri
            Imam Alghazali berkata, “Kalau engkau  bukan  anak raja dan engkau bukan anak ulama besar,maka jadila penulis, dengan menulis kita bisa mencerdaskan  berjuta-juta manusia tanpa batas.

4.      Kurang Sensitif Terhadap Waktu
Kata pepatah  mengatakan ,
Apabila kita memuliakan waktu , maka waktu akan  menjadikan kita orang mulia”
            Bagi orang barat  mengatakan “ Waktu  adalah Uang”. Bagi guru,  waktu  lebih sekedar dari uang dan bahkan bagaikan  pedang yang tajam yang dapat membunuh  siapa saja termasuk pemiliknya. Pedang yang tajam dapat membantu guru menghadapi hidup ini, namun bisa juga sebagai  pembunuh dirinya sendiri. Bagi guru yang kurang memanfaatkan waktunya dengan baik, maka tidak akan banyak prestasi  yang ia raih dalam hidupnya. Dia akan terbunuh oleh waktu yang telah ia sia-siakan.  Detik demi detik waktunya teratur, terjaga dari sesuatu  yang kurang baik dan sangat berharga.
5.      Terjebak ke dalam Rutinitas Kerja
                              Rutinitas kerja tanpa sadar membuat guru terpola  menjadi guru pasif bukan aktif. Hari-harinya diisi hanya untuk  mengajar saja.  Dia tidak mendidik dengan hati. Waktunya disekolah sebatas  sebagai tugas rutin mengajar yang tidak punya nilai apa-apa. Guru  hanya transfer of knowledge. Tidak peduli  dengan lingkungan dan  kondisi  sekolah apalagi kondisi siswa.
6.      Kurang Kreatif dan Inovatif 
            Karena jenjang pendidikan guru dan pengalaman mengajarnya sudah sangat banyak, merasa  guru menjadi kurang kreatif. Guru malas  mencoba sesuatu   yang baru dalam pembelajarannya. Dia merasa sudah cukup. Tidak ada keinginan dan usaha untuk menciptakan sesuatu yang baru dari pembelajarannya. Dari tahun ketahun gaya mengajarnya sama. RPP yang dibuat dari tahun ketahun gayanya sama hanya  mang copy paste dari orang lain. Guru  menjadi tidak kreatif. Proses kreatif menjadi tidak jalan. Agar menjadi kreatif harus msmiliki kemauan  untuk melakukan  inovasi terus menerus, tiada henti.
             Guru kreatif senantiasa bertanya , apakah ia sudah menjadi guru  yang baik ?. Merasa bersalah apabila dalam pembelajaran tidak melaksanakan  dengan baik dan tidak membuat siswa paham dan senang dalam pembelajaran yang dibuatnya. Guru kreatif senantiasa  membuat suatu cara dengan apa, bagaimana, cara guru  agar dapat membuat suatu alat  atau strategi agar anak didiknya dapat senang, tertarik, dan menjadi  pembelajaran yang bermakna di dalam kelasnya bersama guru tersebut.
7.      Guru Malas Meneliti
                          Setiap tahun  pemerintah maupun swasta melakukan  lomba karya tulis ilmiah untuk  para guru, dengan harapan guru mau meneliti. Namun, hanya sedikit guru yang  memanfaatkan peluang ini dengan baik. Padahal inimerupakan kesempatan baik bagi guru untuk berlatih menulis, dan mendorong guru untuk meneliti. Dari penelitian itu guru akan mengetahui kualitas pembelajarannya.
Apabila dalam penelitian tersebut telah dievaluasi kekurangan dan kelebihannya serta di refleksikan pada pembelajaran berikutnya. Guru akan menemukan banyak ide  terus menerus bagaimana agar pembelajaran yang guru bawakan lebih baik. Selama pengalamannya dalam penelitian, guru tersebut  harus memberikan pengalamanya kepada teman guru lainnya dengan menyeminarkan  minimal di tingkat sekolah, lebih baik lagi di tingkat nasional. Agar  inovasi pembelajaran yang guru lakukan dapat diadaptasikna di sekolah lain. Sehingga apa yang ditelitinya merupakan sumbangan terbaik, karya inovasi yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan.
8.      Kurang Memahami PTK
Kebanyakan guru menganggap PTK itu sulit. Padahal PTK  tidak sesulit yang dibayangkan. PTK dilakukan dari keseharian kita mengajar. Tidak ada yang sulit, semua dilakukan dengan mudah  bagaimana daam keseharian kita mengajar. Guru hanya perlu merenung sedikit tentang proses pembelajarannya.
Melalui buku ini, penulis  ingin memberikan wawasan pada guru  pentingnya PTK guna memperbaiki  atau meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Bila kualitas pembelajaran  meningkat, maka akan meningkat pula  mutu pendidikan di sekolah kita.

B.  Manfaat Menulis
            Banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari menulis.  The liang Gie (Jamal, 2012: 184)  memaparkan enam  manfaat menulis, yaitu :

                                          
1.      Nilai Kecerdasan
Dengan sering menulis, seorang penulis dituntut  untuk menghubungkan  buah-buah pikiran  pikiran satu dengan yang lain, merencanaka apa yang akan dia sampaikan,  menimbang perkataan yang tepat untuk disampaikan agar mudah dipahami dan menarik minat baca orang lain, menganalisis informasi yang diperoleh dari berbagai sumber. Adanya aktivitas ini  akan selalu menambah daya pikirnya, kemampuan imajinasi dan kreativitasnya, serta memori kecerdasannya.
2.      Nilai Kependidikan
Pengalaman penulis  selama menulis naskah dalam mengawali penulisan, walaupun  naskah belum  diterbitkan atau sering kali ditolak oleh penerbit, namun tidak patah semangat. Karena tujuan penulis berawal dari  belajar memahami apa yang  ditulis dalam naskah tersebut .  seringnya ditolak, bukan berarti karya  tersebut tidak baik, minimal kita juga bangga telah meluangkan waktu untuk  mengkaji suatu  teori yang  ada dalam otak kita dengan menuliskan nya dalam bentuk naskah. Sesungguhnya itu telah melatih  diri menjadi tabah, ulet, dan tekun sehingga pada suatu hari mencapai suatu keberhasilan. Ini adalah pendidikan yang luar biasa bagi seorang penuis sejati.
3.      Nilai Kejiwaan
Keuletan dituntut bagi seorang penulis, terus  mengarang  yang pada akhirnya tulisannya dimuat di Koran atau majalah terkenal atau diterbitkan sebagai buku oleh penerbit terkenal.
4.      Nilai Kemasyarakatan
Seorang penulis yang sukses,  tulisannya akan dibaca banyak orang, diapresiasi,  menjadi sumber inspirasi, dan akhirnya menjadi rujukan masyarakat. Disini penulis akan memperoleh penghargaan masyarakat yang luar biasa, baik berupa pujian  dan keteladanan, ataupun penghargaan  yang lain.
5.      Nilai Keuangan
Penulis yang tulisannya dimuat akan memperoleh uang dari pihak  yang menerbitkan karya-karyanya. Makin  maju sebuah Negara, makin cerah masa depan panulis.
6.      Nilai kefilsafatan
Salah satu gagasan yang besar  yang digumuli para ahli pikir sejak dulu adalah keabadian. Jasad orang arif tak akan abadi, tetapi buah pikiran mereka kekal , karena diabadikan  melalui karangan yang ditulis.
Islam  sangat mendorong umatnya untuk menulis. Tidak tanggung-tanggung, motivasi menulis  tersebut  langsung turun tatkala  Allah Swt. menurunkan  wahyu pertama kalinya kepada Muhammad di’ Gua Hira’. Firman Allah :
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ia menciptakan manusia dari darah yang  kental. Bacalah demi Tuhanmu yang mulia, yang mengajari (manusia) dengan pena, mengajari manusia sesuatu yang  tidakdiketahui”.(Qs.Al-Alaq 98:1-5)
Dalam ayat  yang sangat monumental ini, sangat jelas bagaimana Allah menempatkan pena (alat untuk menulis) sebagai komponen vital dalam mencerdaskan manusia. Pena sebagai  simbol tulisan  digabungkan dengan membaca. Sebuah kombinasi sinergis. Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan. Laksana dua  sisi mata uang.

C.                   Syarat Menjadi Penulis
Syarat menjadi penulis adalah :rajin membaca. Pada dasarnya adalah menulis  mengeluarkan isi pikiran. Kalau isi kepala kosong, maka  isi tulisan kosong.Syarat menjadi penulis, yaitu : Membaca dari berbagai sumber, adalah kagiatan yang harus dilakukan penulis; semangat pantang menyerah, berkarya seakan tidak pernah memperdulikan  apakah artikelnya  diterbitkan  atau tidak. Suatu saat pasti akan  ada yang menerima  karya kita, keyakinan juga harus ada pada diri seorang penulis, dan : fokus pada bidang ilmu yang dikuasai, dengan memperdalam suatu ilmu pengetahuan secara mendalam,  supaya tulisan menjadi tajam, berbobot, dan terarah.
D.                   Menjadi Penulis Profesional
Menulis merupakan keterampilan, skills. Jadi syarat utama menulis adalah latihan terus menerus, tanpa kenal lelah.  Lalu  jadikan aktivitas menulis menjadi profesi. Senantiasa menginformasikan atau mempublikasikan tulisan.Penulis    harus  memiliki cita-cita menjadi orang sukses kerja keras, mempunyai visi-misi yang kuat, loyalitas, dan kontinuitas.
Tentunya proses adalah waktu bagi seorang penulis untuk memiliki trik, dan gaya sendiri dalam menulis agar dapat dinikmati oleh  publik. Semua usaha yang silakukan terus menerus, panuh dengan keyakinan, dan pantang menyerah itu merupakan seorang penulis profesional
  Dari berbagai sumber
Smoga bermanfaat








Tidak ada komentar:

Posting Komentar